My Blog

Just another WordPress.com weblog

Memperkaya Hidup & Kehidupan dgn Menulis

Kegiatan membaca dan menulis itu tidak hanya mampu menggiring kita untuk meraih kesuksesan di bidang studi dan karier, juga dapat dimanfaatkan untuk mengenali diri, mengkontruksi imajinasi, memperbaiki diri, dan tentu saja meraih kebahagiaan.

Buku “Mengikat Makna Update”, oleh Hernowo, memperkenalkan ide tentang mengikat makna. Secara simplisit, mengikat makna dapat diartikan dengan menuliskan sesuatu yg pernah kita baca.

Apa yg kita baca bisa jadi tidak menghasilkan apa-apa jika tidak ditulis (diikat). Sementara itu, secara spesifik, mengikat makna dapat diartikan sebagai suatu bentuk mengkontruksi (menyusun dan membangun) sebuah materi, manata informasi, dan memproduksi ilmu yang telah kita dapati.

Ada empat pilar penting yang menjadi starting poin dari pengejewantahan mengikat makna. Pertama, mengikat makna adalah kegiatan yang memadukan membaca dan menulis. Pilar pertama ini dianggap sebagai pilar yang paling pokok dan merupakan nyawa konsep mengikat makna.

Kedua,  mengikat makna memerlukan kontinuitas dan konsistensi karena konsep ini adalah sebuah ketrampilan sebagaimana memasak, menari, ataupun mengendarai mobil. Dengan melakukan secara kontinu dan konsisten, kita akan merasakan manfaat yang luar biasa dari konsep mengikat makna.

Ketiga, mengikat makna adalah kegiatan yang sangat personal dan benar-benar diupayakan agar melibatkan diri pribadi yang paling dalam.

Keempat, mengikat makna akan efektif jika menggunakan teknik membaca dan menulis yang berbasiskan cara kerja otak, “brain based writing”. Dan teknik based writing sendiri sudah mencakup “reading”.

Pada titik inilah proses membaca bisa diartikan sebagai upaya sadar untuk menghimpun hikmah yang berserak menjadi referensi dalam memperkaya hidup dan kehidupan. Sementara proses menulis merupakan bentuk memproduksi sesuatu agar kita menjadi manusia yang hidup menjadi lebih hidup.

Belanja Ala Baby Boomer

Bagaimana menyikapi market “generasi baby boomer’?

Masalahnya adalah menemukan cara untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan sebuah generasi yg terbiasa dimanjakan tapi kini harus memperhitungkan anggaran.

Timothy Malefyt, antropolog yg mempelajari tren konsumen, berpendapat bahwa generasi baby boomer karena telah memanfaatkan gelombang perubahan teknologi sangat bisa beradaptasi dan berpengalaman dalam memecahkan masalah, atau setidaknya seperti itu.

Saat ini mereka, generasi baby boomer sudah memanfaatkan konsep belanja berdasarkan nilai, yg pernah dianggap kelompok ini sebagai sesuatu yg sangat jauh dibawah level mereka. Sekarang sudah bukan lagi soal berusaha mengikuti apa yg dimiliki tetangga, melainkan bagaimana agar bisa lebih cerdik dari mereka. Jika kita membuat mereka merasa telah gagal, kita akan kehilangan mereka. Mereka ingin merasa telah berhasil mengalahkan sistem atau keadaan mereka.

Tempayan Retak

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar tergantung pada sebuah pikulan di bahunya. Salah satu dari kedua tempayan itu retak. Tempayan yg utuh selalu dapat membawa air penuh saat melewati perjalanan dari mata air ke rumah. Sedangkan tempayan yg retak hanya dapat membawa air setengah penuh saja.

Tempayan utuh bangga atas kemampuannya, sedangkan si tempayan retak sedih sebab hanya dapat memberi setengah dari seharusnya, sehingga ia berkata kepada si tukang air, “Maaf kalau selama ini merugikanmu dengan hanya membawa setengah tempayan air.” Tukang air menjawab singkat, “Jika kita kembali ke rumah dari mata air besok, amatilah bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”

Keesokan harinya si tukang air bertanya, “Adakah kamu memperhatikan bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu? Sedangkan di sisi jalan tempayan yg utuh tak ada sekuntum bunga pun? Aku memahami kekuranganmu, karena itu aku menabur benih bunga di sepanjang jalan di sisimu agar tiap hari jika kita berjalan pulang, kamu mengairi benih-benih itu. Beberapa tahun ini aku dapat menghias rumahku dengan bunga-bunga indah karena jasamu.”

Tempayan retak ini senantiasa mengingatkanku saat menemani anakku pertama, Monica yg sekarang berusia 7 tahun. Seringkali ia tidak masuk sekolah karena sakit, tidak mau masuk sekolah karena merasa kesulitan dengan pelajarannya, dan tidak mau berlatih piano sendiri di rumah karena kian merasa sulit.

Di balik tempayan retak - kekurangan anakku, bunga-bunga indah – hubungan yg semakin dekat di antara orangtua dan anak. Dan benih-benih bunga -  menghargainya saat ia menemui kesulitan, memberi dukungan mental atau psychological support walau tidak tahu apa-apa tentang musik, dan memberinya pujian di saat ia melakukan hal yg baik.

photo1Satu hal yg penting, aku melihat dalam perkembangan kepribadiannya, kepercayaan dirinya untuk mempelajari sesuatu yg baru kian tumbuh. Di saat kenaikan kelasnya baru-baru ini, syukurlah ia boleh mendapat penghargaan berupa piagam “the most dilligent student” di sekolahnya.

Ini adalah momen terindah. Melalui tempayan retak - kekurangan anak kita, inilah kesempatan bagi kita untuk menabur benih - hubungan yg kian berkualitas di antara kita. Dan kita dapat menghias rumah kita dengan bunga-bunga indah – karena hal-hal baik yg telah mereka lakukan.

Ketekunan adalah Awal dari Kesuksesan

Pebisnis dan pengusaha sukses tampaknya dikuasai oleh kemauan sangat keras dan ketekunan tak tergoyahkan. Setiap orang dalam bidang apa pun yg meraih kesuksesan besar harus mengatasi kesukaran yg sangat besar, sering kali berlangsung selama bertahun-tahun sebelum akhirnya berhasil.

PushingFront3Pada 1890, Amerika terjepit dalam depresi yg sangat parah. Bisnis gagal di seluruh negeri dan beribu-ribu orang di PHK. Seorang pebisnis, namanya Orison Swett Marden, yg tinggal di Mildwest kehilangan hotelnya di tengah-tengah depresi ini dan hanya menyisakan sedikit uang pada dirinya. Dia memutuskan menulis sebuah buku untuk memotivasi dan memberi inspirasi bagi orang lain untuk bersikap tekun dan terus bekerja walaupun berbagai kesulitan sedang menghadang bangsa tersebut.

Dia menempati satu ruangan di atas kandang kuda, dan selama setahun penuh dia bekerja siang dan malam menulis sebuah buku yg dia beri judul Pushing to the Front. Buku ini menceritakan berbagai kisah pria dan wanita yg secara terus menerus bersikap tekun sampai akhirnya sukses.

Akhirnya, buku itu selesai. Pada malam hari dia menyelesaikan halaman terakhir, dan karena lelah dan lapar, dia turun ke jalan ke kafe kecil untuk makan. Ketika dia duduk dan makan, kandang kuda yg dia tempati terbakar. Ketika dia kembali ke tempat itu seluruh tulisannya lebih dari 5,500 halaman telah hangus terbakar.

Pada mulanya dia diliputi perasaan-perasaan kecewa dan kecil hati. Namun, kemudian dia sadar bahwa seluruh bukunya ditulis mengenai pentingnya ketabahan dalam menghadapi kesulitan. Dengan memanfaatkan sumber daya yg ada dalam dirinya ini, dia kembali bekerja dan menghabiskan satu tahun lagi untuk menulis ulang buku tersebut dari awal. Dia tidak mau menyerah.

Ketika buku itu selesai, dia menawarkannya kepada beberapa penerbit, tetapi ditengah-tengah depresi yg saat itu telah memasuki tahun ketiga, tidak seorang pun yg tertarik dengan buku motivasi. Dia menerima penolakan itu dengan tenang dan memutuskan menunggu sampai waktunya tepat. Dia pindah ke Chicago dan melakukan pekerjaan lain.

Satu hari, dia menceritakan bukunya itu kepada seorang teman yg kebetulan mengetahui adanya satu penerbit buku. Penerbit itu membaca manuskrip tersebut dan sangat antusias. Dia merasa buku inilah yg sebenarnya harus dibaca masyarakat di tengah-tengah depresi – atau pada waktu yg lain juga. Pushing to the Front kemudian diterbitkan dan menjadi buku yg sangat laris. Buku itu menjadi sumber inspirasi dan dorongan bagi beribu-ribu orang.

Banyak pebisnis dan politisi papan atas mengatakan bahwa buku Pushing to the Front merupakan buku yg membawa Amerika menuju ke abad dua puluh. Buku itu memiliki pengaruh yg sangat besar bagi pemikiran-pemikran para pengambil keputusan di seluruh negeri dan menjadi satu-satunya buku klasik dalam sejarah buku-buku pengembangan pribadi sampai saat itu. Buku itu dibaca dan dicerna oleh orang-orang seperti Henry Ford, Thomas Edison, Harvey Firestone dan J.P.Morgan.

Mulai Berusaha dan Terus Berusaha

Orison Swett Marden menulis dalam bukunya, “Ada dua syarat untuk mencapai kesuksesan. Pertama adalah ‘memulai’ dan kedua adalah ‘terus berusaha pada apa yg sudah kita mulai.’

Mengenai kualitas ketekunan, dia menulis, “Tidak ada kegagalan bagi orang yg menyadari kekuatannya, yg tidak pernah tahu kapan dia akan gagal; tidak ada kegagalan bagi usaha keras yg penuh dengan ketetapan hati, kemauan yg tak terkalahkan. Tidak ada kegagalan bagi orang yg bangun setiap kali menghadapi kegagalan, yg memantul seperti bola karet, yg tetap berusaha ketika orang lain menyerah, yg terus bergerak maju ketika orang lain mundur.”

Aturan I sebagai Investor

Robert Shemin, penulis buku “8 Rahasia Sang Idiot Kaya”, yg mana juga penulis laris Wall Street Journal. Kala itu baru berusia 25 tahunan dan menganggap, “Ah, saya cerdas. Saya akan membeli beberapa saham dan mengalahkan semua orang serta pasar.” Kala itu, ia begitu percaya dan siap mengambil resiko besar untuk sekadar membuktikan betapa cerdasnya ia.

Akan tetapi, orang ini mengatakan sesuatu yg meninggalkan kesan mendalam padanya dan secara dramatis mengubah strategi investasi pribadinya. Umurnya kala itu sekitar 65 tahunan dan beliau seorang investor milyader. Inilah yg dikatakannya kepadanya yg masih muda-muda dan sok:

“Dengar, kalian masih sangat muda. Kalian pikir kalian pandai dan tahu segalanya, tapi sebenarnya tidak. Setelah bertambah umur dan bijak, dengan pengalaman bertahun-tahun dan melihat semua saham yg jatuh serta semua resiko dan perjudian yg dilakukan orang-orang, pada titik tertentu karier kalian sebagai investor, kalian akan menjadi sangat konservatif. Jadi, lebih baik konservatif sekarang dan jangan sia-siakan tiga puluh, empat puluh, lima puluh tahun waktu kalian dengan kecemasan dan stress akibat investasi. Berinvestasilah pada saham bagus dan perusahaan bagus. Lakukan untuk jangka panjang, karena tidak ada strategi investasi lain sebaik strategi investasi ini.”

“I have never met a man who could forecast the market.” – Warren Buffet, Berkshire Hathaway Annual Meeting, 1987

51CCHDMAWRL__SL500_AA240_

In the spring of 1966, some of Buffet’s partners called to “warn” him that the market might go lower still. Such calls, Buffet shot back, raised two questions: (1) if they new in Feb that the Dow was going to 865 in May, why didn’t they let me on it then; and, (2) if they didn’t know what was going to happen during that ensuing three months back in Feb, how do they know in May? – The Making of an American Capitalist, page 97, by Roger Lowenstein

Kualitas Keberanian

Robert Ronstadt, profesor kewirausahaan pada Babson College menemukan satu kualitas yg biasanya dimiliki pengusaha sukses: kemauan mereka untuk benar-benar memulai bisnis mereka sendiri daripada menunggu. Ronstadt menyebutnya “Prinsip Koridor”. Dia menemukan bahwa ketika para individu itu melangkah maju dalam bisnisnya, seolah-olah berjalan melalui satu koridor, pintu-pintu peluang, yg tidak akan pernah mereka lihat jika mereka belum bergerak maju, terbuka bagi mereka.

Fondasi Kekayaan

Untuk kesuksesan dalam bidang finansial hanya ada satu cara untuk mencapainya secara permanen dan itu adalah “menambah nilai”.

Semua kekayaan jangka panjang yg bisa diprediksi dan tahan lama berasal dari usaha melayani orang lain dengan menyediakan berbagai produk dan jasa yg mereka ingin dan butuhkan dan mau membayarnya. Ini adalah prinsip ekonomi dasar dan dalam jangka panjang prinsip ini tidak bisa diganggu gugat.

Dalam hukum Tabur Tuai, “Apa pun yg kita tabur, maka itu pula yg akan kita tuai.” Apa pun yg kita panen hari ini merupakan hasil dari apa yg telah kita tanam di masa lalu. Jika kita tidak puas dengan hasil panen hari ini, mulailah kita hari ini juga untuk menanam sesuatu yg berbeda.

Dan sekalipun yg ini bukan hukum Tabur Tuai -  kegiatan menanam selalu dilakukan terlebih dahulu dan sering berlangsung dalam jangka panjang sebelum kita memanen hasilnya.

millionaireMenurut Thomas Stanley dan William Danko dalam The Millionaire Next Door, rata-rata miliuner dengan usaha sendiri di Amerika berinvestasi selama 22 tahun dengan kerja keras, pengorbanan, kerugian, kesukaran, dan kegagalan-kegagalan yg bersifat temporal untuk mencapai jumlah kekayaan sebanyak itu.

Orang-orang yg berpikir bahwa mereka akan melebihi rata-rata orang lain dalam hal kekayaan dan langsung melompat ke barisan depan dalam soal keuangan, biasanya tidak siap untuk bekerja keras yg memang diperlukan, dan akibatnya, mereka kembali berakhir pada kehidupan mereka semula.

“Apakah aset finansial yg paling berharga kita? Aset tersebut bukan bukanlah rumah, investasi, atau nomor rekening bank kita, tetapi kemampuan kita mendapatkan penghasilan.” – Brian Tracy

Menjadi Jutawan

Berjalan Sebelum Berlari

Dalam banyak kasus, orang-orang memutuskan tujuan finansial mereka untuk menjadi jutawan atau bahkan miliuner dalam satu atau dua tahun ke depan. Namun, mereka ternyata tidak memiliki uang sama sekali atau hanya memiliki sedikit uang.

Mereka pikir mereka bisa menetralkan semua pengalaman masa lalu mereka dan entah bagaimana langsung melompat menjadi kaya dan makmur dengan persiapan yg sangat minim, dengan sedikit sumber daya, dan tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Mereka yakin bahwa apa yg harus mereka lakukan adalah memiliki angan-angan yg menyenangkan dan mereka secara ajaib akan menarik apa pun yg mereka butuhkan untuk mengatasi frustasi dan kegagalan yg sudah mereka alami selama berpuluh-puluh tahun.

Sebelum mereka ingin menjadi jutawan sesegera mungkin, sebaiknya mereka harus menjadi “ribuan” terlebih dahulu. Setelah berhasil menghemat seribu dollar dan tidak memiliki utang, maka mereka bisa menjadi “sepuluh ribuan” dan seterusnya. Setiap orang harus berjalan sebelum dia bisa berlari.

Menjadi Orang yg Kita Cita-citakan

Kebanyakan orang memiliki impian, keinginan, dan tujuan, yaitu mencari uang yg banyak dan mandiri secara finansial. Hampir setiap orang yg mengimpikan menjadi jutawan suatu hari nanti. Dan, tujuan ini sungguh bisa dicapai jika kita menginginkannya dalam waktu yg cukup lama dan keras dan kita mau melakukan pekerjaan untuk mendapatkannya.

Akan tetapi, bagian terpenting untuk menjadi jutawan, untuk mencapai tujuan apa pun atau mencapai tujuan terpenting, bukanlah tujuan itu sendiri, melainkan menjadikan seperti apa diri kita agar bisa mencapai tujuan tersebut.

Sumber: Buku Flight Plan, oleh Brian Tracy

Kesuksesan Selalu Satu Langkah di Luar Kegagalan

Kesuksesan terbesar kita hampir selalu terjadi satu langkah di luar kegagalan terbesar kita, ketika segala sesuatu di dalam diri kita memberi sinyal untuk menyerah. Semua orang sepanjang sejarah takjub ketika mereka tahu bahwa terobosan terbesar mereka terjadi sebagai akibat dari sikap tekun dalam menghadapi kekecewaan dan semua bukti yg sebaliknya. Tindakan bertahan yg terakhir ini, yg sering disebut “uji ketahanan”, tampaknya mendahului prestasi-prestasi besar apa pun.

H.Ross Perot berkata, “Kebanyakan orang menyerah justru ketika mereka hampir mencapai kesuksesan. Mereka berhenti pada garis akhir yg hanya berjarak satu yard. Mereka menyerah pada menit terakhir permainan, satu kaki jaraknya dari titik kemenangan.”

Kekuatan untuk tetap bertahan terlepas dari apa pun – itulah kualitas pemenang. Ketekunan merupakan kemampuan untuk menghadapi kekalahan demi kekalahan tanpa menyerah – untuk terus melaju menghadapi kesulitan besar.

Kesulitan: Apa yg Menguji Kita

Sepanjang sejarah, para pemikir besar telah menggambarkan paradoks ini dan menyimpulkan bahwa kesulitan adalah ujian yg harus kita lewati dalam perjalanan untuk mencapai apa pun yg berharga. Herodotus, filsuf Yunani, berkata, “Kesulitan memiliki dampak pengeluaran kekuatan dan kualitas manusia yg akan tetap tertidur jika tidak ditempa dengan kesulitan tersebut.”

Kualitas-kualitas terbaik dari kekuatan, keberanian, karakter, dan ketekunan muncul dalam diri kita jika kita menghadapi tantangan-tantangan terbesar dan ketika kita menanggapinya secara positif dan konstruktif.

Setiap orang menghadapi berbagai kesulitan setiap kali melangkah. Perbedaan antara orang-orang yg memiliki prestasi tinggi dan orang-orang yg biasa-biasa saja adalah orang-orang yg berprestasi tinggi menggunakan kesulitan untuk menjadi orang yg lebih kuat, sementara orang-orang yg berprestasi biasa-biasa saja membiarkan berbagai kesulitan dan kesukaran menguasai mereka dan membuat mereka kecil hati dan patah hati.

“Lingkungan tidak mempengaruhi manusia; lingkungan hanya menampakkan manusia kepada dirinya sendiri.” – Epictetus

Older entries »