My Blog

Just another WordPress.com weblog

Living Our Passion

Life is about living our passion.

We’re never living our our life until we’ve fallen in love deeply with our passion. There is no reason not follow your heart.

International Triathlon, Hoi An, Vietnam, Sept 10, 2011, Olympic Distance 1.5km swimming, 40km biking, 10km running.

Cucilah Mangkokmu


Ada sebuah cerita Zen yg menarik:

Seorang biawaran berkata kepada Joshu, “Saya baru saja masuk biara. Mohon bisa mengajari saya.”
Joshu bertanya, “Sudahkah kamu makan bubur nasimu?
Biarawan menjawab, “Saya sudah memakannya.”
Joshu berkata, “Kemudian kamu lebih baik mencuci mangkokmu.”
Pada moment itu biawaran itu dicerahkan.

Saya tidak sedang mencoba menjelaskan cerita ini, sebagaimana saya masih jauh dari cukup dicerahkan untuk mengertinya. Saya akan fokus pada keindahan dari kesederhanaan nasihat ini:

Sudahkah kamu makan bubur nasimu? Kemudian kamu lebih baik mencuci mangkokmu.

Ini sesuatu yang saya pikirkan setiap kali saya makan, dan dimana pun saya selesai mengerjakan sesuatu. “Sudah makan? Lalu cuci mangkokmu.”

Ada sesuatu yang sangat mendalam dan juga minimalist dengan nasihat ini, yakni: jangan dirimu terjebak didalam semua pemikiran ini tentang makna kehidupan.. – sebaliknya, hanya lakukan. Hanya cuci mangkokmu. Dan disaat mencuci, kamu akan mendapatkan semua yang kamu perlukan.

Saya telah menemukan ini benar. Saya telah secara harfiah mencuci mangkokku selesai makan, perlahan-lahan dan dengan penuh kesadaran. Ini sangat menyenangkan, dan tidak perlu uang dan sedikit sumber daya.

Ingat untuk melakukan semuanya ini ketika kita telah menyelesaikan aktifitasnya bukan tentang kerapian. Ini tentang kesadaran, tentang menyelesaikan apa yang telah kita mulai, tentang “being present” didalam semua yang kita kerjakan daripada mengejar aktifitas berikutnya.

Cucilah mangkokmu, dengan perhatian dan kegembiaraan.

Just Do It..

Do it first, then fix it as we go..
Register it first, then find out how to complete it as we run..

Finishing line International Triathlon, Jimbaran Bay Bali, on June 26, 2011; Sprint Distance, 500m swimming, 20km biking, 5km running.

Waktu terbaik bagiku untuk mengikuti Triathlon sebenarnya 20 tahun yang lalu. Berikutnya waktu terbaik adalah hari ini.

Sebuah Langkah Kecil


Perhatikan seekor lebah. Ia terbang dari satu putik bunga ke putik bunga yang lain, menghisap madu, lalu mengumpulkannya dalam sarang. Begitu tekun. Lebah bekerja tidak sekadar untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga dan kemudian membahagiakan orang lain.

Lebah adalah sumber inspirasi yang kemudian melahirkan filosofi: “Sebuah langkah kecil menuju perubahan besar…” Langkah kecil seekor lebah (pekerja) kemudian melahirkan madu (hasil). Bukan karena ia memikirkan hasilnya, tetapi karena ia menjalani hidup dengan mengerjakan sesuatu.

Itulah yang mengawali “langkah kecil” tipe orang “what I can do..” – seorang pengemudi taksi di Singapore. Dulunya ia bekerja di sebuah perusahaan sepatu terkemuka. Saat berlibur di pantai, anaknya yang masih kecil sedang berenang di tengah laut. Tiba-tiba ombak besar datang. Ia berenang dengan sekuat tenaga dengan keahlian berenangnya yang terbatas mencoba menyelamatkan anaknya ke tepian. Namun ombak besar menghantam kepalanya sehingga ia terantuk batu karang. Sekarang di lehernya terpasang beberapa skrup. Ia tidak bisa lagi bekerja seperti sedia kala.

Saya sedang meniru Hector, seorang psikiatrist yang sedang mempelajari tentang kebahagiaan. Seperti dalam bukunya “Hector and The Search of Happiness,” saya mencoba menanyai setiap orang yang saya temui – apa yang membuat mereka bahagia.

Dalam perjalanan pulang mengunjungi rumah saudara di Singapore, saya menanyakan pertanyaan ini, “What has made you happy working as taxi driver?” Ia tidak menjawabnya secara langsung, tetapi dengan penuh semangat ia menceritakan kejadian di atas.

Setelah sampai di tujuan, hotel dimana saya tinggal, ia segera menyimpulkan ceritanya “I’m not doing a job I love. I’m doing a job what I can do. And I’m happy because God gave me second chance to live for my kids who are still very young.”

Pekerjaan sebagai pengemudi taksi walau mungkin kecil dibanding orang lain, tetapi ini ia lakukan dgn nyata – untuk keluarganya.

Lesson 1: Happiness comes when you feel truly alive.
Lesson 2: Happiness is feeling useful to others.

Lesson 3: Happiness is not something that you seek… and Happiness also is not something that you pursuit.. but Happiness is the way you enjoy the life itself

Minimalism Membawa Kebahagiaan

“The secret of happiness, you see, is not found in seeking more, but in developing the capacity to enjoy less.” – Socrates

Minimalism dapat diringkas menjadi satu kalimat, “learn to love less.”

Ketika kita fokus pada menikmati sesuatu yg lebih sedikit, kita fokus untuk sepenuhnya menikmatinya. Kita belajar untuk puas dengan sesuatu yang lebih sedikit. Batas kebahagiaan kita hanya pada bagaimana kita dapat belajar untuk menikmati sesuatu yang lebih sedikit.

Dalam bahasa sederhananya, “Ketika kita membuang semua barang kita, kita membebaskan diri kita untuk melakukan apapun.”

Dan kongkretnya:
- Stop membeli yang tidak perlu.
- Buang setengah barang kita, belajar tentang “contentedness” (menjadi puas).
- Buang setengahnya lagi.
- Daftarkan 4 hal yang esensiil dalam hidup kita, lakukan ini dulu, stop melakukan yang tidak esensiil.
- Singkirkan hal yang bisa menganggu perhatian kita, fokus pada setiap momen.
- Let “go of attachment to doing”, having more.

Kopi Membawa Kebahagiaan

Coffee is to wake up,
coffee is to work with,
coffee is to live with,
coffee is life. – Tim Pasons

Momen jatuh cinta saya pada kopi terjadi pada tahun 2005 saat diajak mencicipi kopi tanpa gula, atau yang disebut dengan black coffee. Ternyata kopi tidak cuma pahit tapi banyak banget spektrum rasa yang menarik. Saya tertarik dgn kopi karena rasanya tidak pernah sama. Kopi benar-benar menyerap karakter dirinya, di mana dan bagaimana kondisi lingkungan dia tumbuh, bagaimana dia dirawat, karena semua itu membuat tiap kopi berbeda.

Pernah mencicipi sekian banyak jenis kopi, saya tidak pernah merasa bosan ngopi. Buat saya, kopi itu lebih penting kapan, di mana, dan dengan siapa saya minum. Ketika seseorang sedang senang, semua akan terasa indah begitu pula sebaliknya.

Bagi saya, kopi merupakan salah satu cara Tuhan memberi tahu bahwa hidup dan alam begitu indah, dan segala sesuatu pasti punya perbedaan. Dari kopi saya belajar tentang manusia, alam dan paling tidak bisa diajak ke berbagai daerah tanpa meninggalkan tempat duduk karena membayangkan kondisi lingkungan dimana kopi yang saya minum itu tumbuh.

Mencari Kebahagiaan

Seorang businessman dari Amerika tengah berlibur ke pisisir desa di Mexico. Suatu siang ketika ia sedang duduk di pesisir, ia melihat seorang nelayan yang terlihat sangat menikmati waktu memancingnya. Ia kemudian memutuskan untuk mendekatinya dan melihat hasil tangkapannya.

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menangkap sejumlah ikan ini?” businessman itu bertanya.
“Hanya sebentar saja,” nelayan itu menjawabnya dengan bahasa inggris yang tak terduga sangat bagus.
“Mengapa kamu tidak meluangkan waktu lebih lama untuk menangkap ikan lebih banyak?” businessman itu kemudian bertanya.
“Saya sudah cukup mendapatkannya untuk keluarga saya dan membagikan beberapa pada teman” jawab nelayan itu sambil memindahkan hasil tangkapannya ke keranjang.
“Tetapi… apa yang kamu lakukan di waktu sisanya?”

Nelayan itu mendongak dan tersenyum, “Saya tidur larut malam, memancing sedikit, bermain dengan anak saya, tidur siang dengan istri saya Julia, dan berjalan-jalan ke desa setiap sore, dimana saya minum anggur dan main gitar bersama amigos, teman-teman saya. Saya memiliki kehidupan yang padat dan sibuk, senor.”

Businessman itu berkata, “Saya MBA dari Harvard, dan saya bisa membantumu. Kamu seharusnya menghabiskan waktu lebih lama; dan selanjutnya, beli kapal yang lebih besar; selanjutnya dari membeli kapal yang lebih besar kamu bisa membeli beberapa kapal. Akhirnya kamu bisa memiliki beberapa armada kapal penakap ikan. Daripada menjual hasil tangkapanmu ke perantara kamu dapat langsung ke pusatnya; akhirnya membuka pabrik pengalengan sendiri. Kamu akan mengontrol produk, pemrosesan dan distribusinya. Kamu perlu meninggalkan pesisir desa kecil ini dan pindah ke kota besar Mexico, kemudian Los Angeles dan akhirnya New York dimana kamu akan menjalankan perusahaanmu yang terus berkembang.”

Nelayan itu kemudian bertanya, “Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk semua itu?”
Businessman itu menjawab, “15 sampai 20 tahun.”
“Tetapi kemudian apa?” tanya nelayan itu.

Businessman itu tertawa dan berkata bahwa itu bagian yang terbaik. “Saat waktunya tepat kamu akan mengumumkan IPO dan menjual saham perusahaanmu ke publik dan menjadi sangat kaya, kamu akan menghasilkan jutaan dollars.”

“Jutaan dollars?… Kemudian apa?”

Businessman itu berkata, “Kemudian kamu akan pensiun. Pindah ke pesisir desa kecil dimana kamu akan tidur larut malam, menangkap ikan sedikit, bermain dengan anakmu, tidur siang dengan isterimu, berjalan-jalan ke desa setiap sore, dimana kamu bisa minum anggur dan main gitar bersama amigos-mu, teman-temanmu.”

Nelayan itu bertanya dengan nada agak bingung, “Apa yang kamu pikir yang saya lakukan sekarang?”

Coba renungkan cerita ini secara mendalam. Kalau kebahagiaan yang sedang dicari, buat apa repot-repot. Sekarang nelayan itu pun sudah bahagia.

Menularkan Kebahagiaan

“Kamu akan berumur panjang…
Kamu akan kehilangan semua uangmu…
Jangan kuatir, kamu akan mendapatkannya kembali…
Dan kamu akan kembali ke Bali,
dan pada saat itu aku akan mengajarkan kepadamu segala sesuatu yang aku tahu..”

demikian ramalan Ketut, sang dukun – pria tua dengan sepasang mata jenaka, bertubuh kecil nan keriput, kulit cokelat kemerahan dan mulut yang giginya sebagian besar sudah ompong saat membaca garis tangan untuk Elizabeth Gilbert dalam Eat Pray Love.

Katanya, Elizabeth akan menemukan pekerjaan kreatif yang akan sangat ia cintai. Dan juga mengatakan dengan keyakinan penuh bahwa ia akan menemukan belahan jiwanya segera. Amat segera.

Menurut Elizabeth, Ketut bertanggung jawab atas ramalan yang telah mengubah hidupnya. Ramalan Ketutlah yang memungkinkan ia merumuskan konsep utk Eat Pray Love – satu tahun kehidupan yang ia habiskan di Italia, India dan Bali – dan mendapatkan pembayaran di muka untuk buku tersebut yang kemudian membiayai seluruh perjalanannya.

Sukses tidak selalu menciptakan kebahagiaan, tetapi kebahagiaan itu sendiri menciptakan sukses.

Kebahagiaan dalam diri Ketut telah memberi kekuatan kepada para pengunjungnya, sehingga menjadi sumber inspirasi dan keberanian dalam mengejar passion
, seperti yang telah dilakukan oleh Elizabeth sebagai penulis.

Keajaiban sejati terletak pada sesuatu yang jauh lebih tak kentara dan tampaknya bisa dimiliki setiap manusia – makna kebahagiaan.

Bukan Sekedar Penunjuk Waktu

Jam dinding dan jam meja tidak sekedar berfungsi sebagai alat penunjuk waktu. Jam juga didesain sebagai aksesori penghias ruangan.

Memilih jam yang cocok untuk ditempatkan di suatu ruangan sama halnya seperti memilih aksesori yang harus dicocokkan dengan warna dan gaya berpakaian. Jam memang kemudian nyaman dipandang. Namun, ada baiknya diingat omongan humoris Amerika Sam Levenson tentang jam: “Don’t watch the clock; do what it does; Keep going.. (Jangan pandangi jam; kerjakan apa yang ia lakukan: jalan terus..).”

7 Alasan Mengapa Anda Golf


1. Menghirup udara segar yang kadang kala disertai sepoi-sepoi udara segar dari pepohonan yang rindang. Olah raga baik untuk kesehatan, apalagi bila saat berolah raga Anda menghirup udara segar. Ketika Anda berolah raga tubuh akan menghirup udara 5 kali lebih banyak. Bila Anda berolah raga di tempat yg banyak polusi atau sambil merokok, tentu saja polusi dan asap rokok itu akan 5 kali lebih banyak masuk ke tubuh Anda.

Dan tahukah Anda bermain golf dengan berjalan kaki dapat memperpanjang umur sebanyak 5 tahun, menurut survey yang dilakukan oleh tim riset Swedia pada 300,000 pemain golf.


2. Think out of the office.. seketika lupa seabrek masalah pekerjaan. Anda di dunia lain, yang ada hanya Anda, kicauan burung dan rumput golf bak permadani hijau. Anda akan benar-benar empty your mind.. Keesokan harinya Anda akan refresh, recharge dan bekerja lebih produktif.


3. Bersendang gurau bersama teman-teman, yang kadang bisa tertawa terpingkal-pingkal, saling menceritakan dan mentertawakan kebodohan diri sendiri. Anda akan benar-benar release stress..

Apalagi setelah selesai bermain, Anda lelah, perut keroncongan, ditambah dingin karena kehujanan.. maka menikmati sepotong pisang goreng ditemani secangkir teh hangat.. sambil memandang padang golf yang hijau.. akan menjadi moment yang menyenangkan bagi Anda bersama teman-teman. You really feel in paradise.


4. Mengembalikan semangat kerja yang kadang sudah mencapai titik nadir.. frustasi dan putus asa. Dengan “can do spirit” sebagaimana bola harus bisa dipukul, eh.. swing di kondisi medan sesulit apapun.


5. Belajar menerima keadaan. Anda tidak bisa mendapatkan semua yang Anda inginkan. Ada kalanya Anda harus menerima keadaan itu, yang kadang sungguh tidak mengenakkan. “Keep doing..” tetap berjuang apa yang bisa Anda kerjakan. Sekecil apa pun, yang kadang perlu dengan cara yang berbeda. Keinginan Anda tidak bisa terealisasi saat ini, mungkin suatu hari nanti Anda akan mendapatkannya.


6. Anda bisa memotong pembicaraan telepon yang seketika membuat sekujur tubuh Anda berkeringat dingin (misalnya gara-gara sales pipeline bulan depan Anda yang kurus, tidak cukup setorannya) dengan berkata, “Maaf ya, Bos. Customer sudah menunggu di depan.”


7. Tidak ada rasa bersalah saat Anda malas bekerja dan hanya bermain golf saja. Rekan-rekan tim pendukung Anda akan mengira Anda sedang bekerja dengan customer. Sedangkan mereka merapatkan barisan, bekerja keras demi Anda di kantor. Atau sebaliknya, mereka gembira.. merdeka, tidak ada yang sebawel Anda di kantor.

Older entries »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.