
Di sebuah sekolah dasar seorang guru bertanya pada murid-muridnya, “Siapa yang sudah sarapan pagi ini?” Kira-kira separuh murid mengangkat tangan. Guru itu kemudian bertanya kepada anak-anak yang tidak mengangkat tangan, “Mengapa kalian tidak sarapan?” Sebagian menjawab tak sempat karena sudah terlambat. Sebagian lagi mengatakan belum merasa lapar, ataupun tak menyukai sarapan yang disiapkan.
Semua memberikan jawaban senada kecuali satu anak. “Karena,” jawabnya, “Sekarang bukan giliran saya.” “Bukan giliranmu?” tanya sang guru. “Apa maksudmu?” “Dalam keluarga kami ada 4 anak,” ujarnya, “tapi ayah tak punya cukup uang untuk membeli makanan supaya tiap orang bisa sarapan setiap hari. Kami harus bergiliran dan hari ini bukan giliran saya.”
Apa yang Anda rasakan ketika membaca kisah ini? Orang-orang seperti ini ada di sekitar kita. Tapi kadang kita tak bisa melihatnya karena mata kita tertutup. Yang sebenarnya tertutup adalah mata hati kita. Ini bisa terjadi karena hati kita dipenuhi ego dan kepentingan kita sendiri. Kita terlalu banyak tertawa dan sibuk bergaul dengan orang-orang berpunya. Ini membuat hati kita tertutup.
Seorang bijak pernah mengatakan, “Ketika kamu melihat dirimu tidak berbeda dari orang lain, ketika kamu merasakan apa yang mereka rasakan, lalu siapa yang bisa kamu sakiti?”
Inilah cara menumbuhkan cinta kasih. Tapi, merasakan baru merupakan permulaan. Cinta kasih yang sebenarnya haruslah diwujudkan dengan memberikan sesuatu kepada orang lain. Ukuran cinta adalah pemberian, sekecil apapun bentuknya.
“Yang penting bukan seberapa besar yang kita perbuat, melainan seberapa besar cinta kasih yang kita sertakan dalam perbuatan kita.” – Mother Theresa
Note: Foto di atas diambil saat perjalanan saya di Zambia di bulan November 2009.