“Kamu akan berumur panjang…
Kamu akan kehilangan semua uangmu…
Jangan kuatir, kamu akan mendapatkannya kembali…
Dan kamu akan kembali ke Bali,
dan pada saat itu aku akan mengajarkan kepadamu segala sesuatu yang aku tahu..”
demikian ramalan Ketut, sang dukun – pria tua dengan sepasang mata jenaka, bertubuh kecil nan keriput, kulit cokelat kemerahan dan mulut yang giginya sebagian besar sudah ompong saat membaca garis tangan untuk Elizabeth Gilbert dalam Eat Pray Love.
Katanya, Elizabeth akan menemukan pekerjaan kreatif yang akan sangat ia cintai. Dan juga mengatakan dengan keyakinan penuh bahwa ia akan menemukan belahan jiwanya segera. Amat segera.
Menurut Elizabeth, Ketut bertanggung jawab atas ramalan yang telah mengubah hidupnya. Ramalan Ketutlah yang memungkinkan ia merumuskan konsep utk Eat Pray Love – satu tahun kehidupan yang ia habiskan di Italia, India dan Bali – dan mendapatkan pembayaran di muka untuk buku tersebut yang kemudian membiayai seluruh perjalanannya.
Sukses tidak selalu menciptakan kebahagiaan, tetapi kebahagiaan itu sendiri menciptakan sukses.
Kebahagiaan dalam diri Ketut telah memberi kekuatan kepada para pengunjungnya, sehingga menjadi sumber inspirasi dan keberanian dalam mengejar passion, seperti yang telah dilakukan oleh Elizabeth sebagai penulis.
Keajaiban sejati terletak pada sesuatu yang jauh lebih tak kentara dan tampaknya bisa dimiliki setiap manusia – makna kebahagiaan.

